Kamis, 02 November 2017

Mati Sejenak

Hidup mengarah pada sebuah kematian. Dimana alam keabadian telah menunggu untuk memberikan hasil dari sebuah penanaman kehidupan. Entah tanaman itu baik atau tidak, kematian akan memanen hasilnya yang akan diberikan kepada setiap penghuninya.

Kematian mengingatkan seseorang dibumi akan sebuah hakikat perjalanan hidup. Yang akan hilang dari kehidupan,  namun abadi dalam nilai-nilai luhur yang ditanamnya.

Kematian abadi merupakan sebuah petaka bagi mereka yamg tidak dapat memberikan hidup dengan nilai-nilai luhur. Sehingga keburukan yang dibawanya bersifat kekal dan abadi, menemani perjalannya kembali ke Sang Pencipta.

Kematian sejenak membuat seseorang tersadar dari sesaknya nafas dan ketiadaan dirinya setelah hidup. Dengan melihat dirinya terkapar lemah tak berdaya, sehingga hidupnya dibumi menjadikannya bekal untuk kematian.

Sabtu, 21 Oktober 2017

Kelak Kau

Kelak kau akan mengerti, bahwa menahan diri untuk membuat seseorang tak tersinggung karena lisanmu, lebih mulia dari pada mengutarakan isi hati.

Kelak juga kau akan mengerti. Bahwa tersinggung atau tidaknya lisan seseorang terhadap kita, tergantung pada hubungannya terhadap Sang Pencipta. Dimana Dia telah menuliskan beribu cara agar kembali kepadaNya.

Kelak kau akan mengerti. Bahwa ketersinggungan dari setiap orang selalu meningkat karena adanya keraguan dan ketakutan. Keraguan atas apa yang selama ini dijalankan, tanpa membaca lebih dalam lagi maknanya, hingga teks, konteks dan realita tidak berjalan dengan mulus, layaknya skenario film yang akan dinikmati orang banyak. Ketakutan atas pengambilsn keputusan, karena kajian yang dilakukan kurang mendalam dan terkesan lambat penanganan.

Kelak juga kau akan tahu, bahwasanya sebuah hati yang suci hanya akan bersinar jika diisi dengan hal yang positif, mengingatNya,

Merasakanmu

Merasakanmu adalah setiap darahku mengalir menciptakan kehidupan dalam oragan tubuhku. Jantung memompa dara dengan irama yang dapat ditentukan. Kadang berdetak kencang atau pun pelan. Hingga ajal menghentikan detaknya.

Merasakanmu adalah kehidupan yang selalu berputar tanpa henti. Tanpa takut jika terlepas dariNya. Karena Dia Maha Mengawasi. Setiap gerak-gerik tingkah laku seseorang akan terdeteksi dengan cepat apa maksudnya. Orang tersebut masuk kedalam skenario terbesarNya.

Merasakanmu memberikanku ruang dan waktu yang sangat luas. Rasa hadirnya diriMu membuatku manja akan banyak permintaan. Layaknya anak kecil yang selalu ingin ini dan itu.

Merasakanmu hadir dalam setiap penglihatanku, membuatku semakin terawasi oleh Sang Pembuatku. Tanpa ada campur tangan langsung Dia menuntunku agar kembali kepadaNya.

Merasakanmu membuat hati menjadi tengan. Hanya karena mengingatmu dan merasakan akan hadirnya diriMu dalam setiap gerak-gerikku.

Merasakanmu membuatku sadar dan tahu diri, antara Sang Pencipta dan yang diciptakanNya, termasuk aku. Tentang tingkah laku yang selalu terdeteksi oleh hati, sebagai sumber tolak ukur kemanusiaan.

Mendengarmu

Aku mendengarmu melalui hembusan angin yang menyapa telingaku. Dengan kesejukan dan kelembutan kasih dalam penyampaian pesanMu. Agar aku selalu menjaga belaian kasih sayangMu sepanjang jalan menujuMu.

Aku mendengarmu melalui gemericik air yang mengalir. Dengan nada-nada kehidupan yang selalu mengalir mencari ujung dari hilir yang telah disiapkan. Agar hidup selalu berjalan kedepan, mencari muara terbesar hingga samudera surga yang selalu didambakan.

Aku mendengarmu melalui melalui tetesan embun dipagi hari. Memberikan harapan baru untuk mengisi hari demi hari. Menciptakan beragam keajaiban yang tidak dapat disangkakan. Hingga sang malam tiba berselimutkan dengan kabut. Menutup semua cerita tentang hari ini. Berdoa dan berharap agar embun pagi esok hari lebih baik dari panasnya mentari.

Aku mendengarmu melalui tetesan air hujan. Yang entah bagaimana membawakan berkah dari Ilahi tentang kehidupan manusia. Namun, bisa juga menjadi sebuah bencana bagi manusia dan lingkungannya, agar aku berpikir tentang rumus kehidupanMu. Tetesan yang dapat menghilangkan dahaga bumi dari teriknya matahari. Dan tetesan yang dapat menenggelamkan suatu tempat dengan memakan korban.

Aku mendengarmu melalui tangisan bayi yang baru lahir. Sapaan pertamanya menghadapi dunia. Yang entah bagaimana bayi itu harus hidup dan kembali kepadaNya. Dengan siapa orang tuanya itu hanya Dia yang mengaturNya. Hingga problematika besar bermunculan karena gagalnya kita memahami sapaan bayi pertama lahir itu.

Aku mendengarmu melalui gosip murahan tentang berbagai kejelekan orang-orang. Hujatan yang selalu terlontar dari para pembenci. Caci maki yang keluar tak terkendali. Serta emosi yang dapat menghancurkan satu generasi. Hingga saat orang yang dibicarakan tersebut hadir didepannya. Dan mereka terdiam, tertunduk malu serta mengalihkan pembicaraan agar terasa akrab kembali.

Aku mendengarmu melalui kitab yang selalu dibacakan oleh para penerus agama. Dengan pemahaman yang beragam, sampai beribu pertanyaanku dibuatnya, tentang isi dari kitab-kitabMu. Mengapa mereka selalu mempertentangkan satu dengan yang lainNya. Baik dalam satu agama ataupun berbeda agama, yang selalu membuatku bertanya tentang skenario apalagi yang akan Kau buat.

Aku mendengarmu melalu orang-orang "katanya". Yang selalu membawa kata "katanya" yan tidak memiliki ujung pangkal. Sumber yang valid yang dapat dijadikan bahan perimbangan. Namun "katanya" ini sangat menarik, karena dapat menimbulkan persepsi lain yang dapat memacu otak untuk berpikir ulang tentang suatu masalah.

Aku akan selalu mendengarkanMu. Melalui bisikan ataupun hal nyata, yang dapat membawaku kembali kepadaMu.



Kamis, 19 Oktober 2017

Melihatmu

Aku melihatmu dalam rintik hujan yang membasahi bumi. Yang membuat embun dalam ruangan. Dan memberi bintik pada kaca yang tak menyerapmu.

Aku melihatmu dalam siang yang disenyumi matahari. Terlapis awan agar tak terlalu menyengat panasnya. Terlapis udara yang membuatku merasa sejuk. Terlapis polusi yang terkadang membuat kabut mata memandang.

Aku melihatmu dalam gelapnya malam. Disaat bulan bersinar dengan rasa malunya. Bintang berkelip dengan lincahnya. Angin malam berhembus dengan belaian kasih sayangnya. Agar aku dapat tidur dengan nyenyak.

Aku melihatmu dalam tatapan kosong para pelamun. Menggambarkan surga untuk tempat abadinya. Melukiskan indahnya hidup yang akan dijalaninya. Memetakan langkah untuk dapat berjalan menujumu.

Aku melihatmu dalam hijaunya daun di pepohonan. Pada buah yang bersandar manja pada pepohonan. Hasil panen yang melimpah ruah. Agar aku dapat bertahan hidup menujumu.

Aku melihatmu dalam sebuah bencana alam yang menakutkan. Menegurku untuk siap akan sesuatu yang tak terduga. Memberikan peringatan akan alam yang harus di lestarikan. Dan sesuatu yang dapat datang kapan saja. Memberikan kita tempat untuk menunjukan kebenaran diri secara abadi. Apakah dapat memaknainya dengan baik atau tidak.

Aku melihatmu pada setiap sudut. Yang menjadikan hidup ini tak pernah sendirian. Bahkan dalam keheningan sepi yang tak seorang pun dapat menemukanku.

Sabtu, 09 September 2017

Ukuran

Setiap sesuatu memiliki ukurannya masing-masing. Bisa jadi satu ukuran, bisa jadi beda ukuran.

Bagaimana saya dapat mengukur kemampuanmu denganku, jika aku memiliki ukuran 1 untuk satuan centimeter, sedangkan kau memiliki ukuran 1 untuk kilometer. Angka kita sama, namun ukuran satuan tersebut berbeda.

Sepertihalnya mengukur kemampuan seseorang dengan ilmu pastinya. Bagi seniman, semua ilmu pasti itu dapat berubah setiap saat tergantung dari sudut mana memandangnya. Sedangkan bagi ilmuwan ilmu pasti itu harus menjadi sebuah terapan agar berikutnya dapat dikembangkan, tanpa merubah pondasi dasarnya.

Ukuran keberhasilan seseorang kebanyakan dilihat dari apa yang dia punya, seperti rumah mewah, mobil mewah, uang yang banyak, perhiasan, perusahaan-perusahaan yang dimiliki dan lainnya yang dapat dilihat dari mata orang banyak. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena dunia memang menyediakan banyak kekayan untuk manusia, namun ada yang hilang dari makna sebuah keberhasilan tersebut, yang hanya sebagian orang saja yang dapat menyelaminya.

Ukuran tersebut memacu satu dengan yang lainnya agar bisa untuk memilikinya. Bisa dengan cara yang baik, bisa juga tidak. Sehingga terjadilah kelas sosial yang membedakan seseorang. Hal baik dan hal buruk pun timbul. Ada sebuah kebanggaan, kesenangan dan kehormatan bagi yang memilikinya, ada juga sebuah kecemburuan, kesedihan dan kehinaan bagi yang tidak memilikinya. Dengan begitu hukum rimba pun berlaku untuk semuanya. "Siapa yang kuat dia yang menang." Kuat dalam ukuran yang menjadi barometer kesuksesan banyak orang.

Sebuah tolak ukur seharusnya membuat seesorang dengan mudah mengetahui posisi dirinya saat itu. Jika ukuran keberhasilan tersebut tidaklah abadi, maka ukuran itu dapat menurun. Seseorang yang mengetahui posisinya saat itu, akan melakukan tindakan yang bermanfaat untuk orang lain, dengan menghilangkan rasa kesombongannny, kebanggaanyya, kesenangannya dan kegilaan hormatnya. Sehingga dia dapat melebur dan menyatu dengan kelas mana pun. Walaupun kelasan tersebut berisikan para dewa atau para iblis. Dia tetaplah pada ukuran tersebut.

Bagaimana cara mengukur nilai seseorang?
Baiklah, beri saja dia ujian yang dapat membuatnya tidak jatuh sejatuh-jatuhnya, dan bangkit sebangkit-bangkitnya. Lihat apkah dia berubah atau tidak sikap dan sifatnya.
Sebagai contoh, ketika ujian tersebut bersifat menyenangkan, menggembirakan dan dilimpahkan rezeki yang banyak, bagaimana dia gunakan ujian tersebut, dan amati tingkah lakunya dalam mengeluarkan rezeki yang berlebih itu.
Begitu pun sebaliknya, ketika ujian itu bersifat menyusahkan, menyedihkan, rezeki yang sedikit dan tak ada orang yang ingin mendekatinya, bagaimana dia gunakan ujuian tersebut, dan amati tingkah lakunya dalam usaha memperoleh rezeki yang dia inginkan itu.

Ukuran itu sangat penting, untuk mengetahui posisi seseorang dengan Tuhannya.
Ukuran dalam berhubungan dengan Tuhan dan manusia yang harus sejalan.

Minggu, 30 Juli 2017

Masih Tersesat

Aku masih tersesat dalam perjalanan singkat di dunia ini.
Melihat lautan seakan air dalam kolam yang berisikan kesunyian.
Melihat pasir bagaikan gedung pencakar langit yang tumbang oleh ombak.
Melihat batu seperti bantalan penuh isi yang pecah di terjang benturan kencang.

Aku masih tersesat dalam perjalanan menuju-Mu.
Disaat beragamnya agama yang ada di dunia ini untuk menyembahmu,
Namun harus di perjuangkan dengan sebuah pertikaian dan pertumpahan darah.

Disaat pesohor dunia yang tak luput dari dosa menjadi tangan kananMu tanpa dosa.
Sehingga buta mataku untuk melihatnya sebagai manusia.
Karena halusinasi tingkat tinggi membuatnya menjadi Dewa Maha Benar.

Disaat alam memberikan jawaban atas perbuatan manusia,
Hanya ada dua alasan yaitu musibah atau azab.
Sampai mati nalarku untuk mengartikannya dengan sebab akibat hukum yang berlaku.

Disaat semua terbungkam karena tumpulnya pemikiran.
Sehingga sangat sensitif jika dibahas, namun tidak merubah keadaanya.

Disaat kebenaran tertutup oleh suara terbanyak dari hasil voting,
Sehingga kebenaran yang ada sesuai dengan dukungan banyak orang.

Disaat parah tokoh memenggal sejarah dari para pejuang terdahulu.
Yang telah melahirkan generasi hebat sepanjang abad untuk dunia.
Menciptakan budaya yang hormat kepada orang tua dan sayang terhadap yang muda.

Disaat para pembawa firman Tuhan mengutamakan ayat-ayat semangat perang.
Hingga lupa aku untuk menciptakan kedamaian dalam kehidupan nyata.
Karena adanya ambisi untuk memperjuangkan yang dianggap kebenaran.

Disaat kalimat suci sering terdengar untuk menumbangkan lawan.
Hingga hilang dari pemahaman mendalam tentang kalimat itu.
Jiwa menjadi panas, semangat semakin menggebu dan ketenangan menjadi hilang.

Disaat manusia menjadi manusia suci, pimpinan para dunia untuk membawa kedamaian.
Namun harus dimulai dengan peperangan hingga musuh pun harus tunduk.
Hingga lupa bahwa hakikat semua manusia hanya untuk menyembahMu.

Aku masih tersesat hingga saat ini.
Tak heran jika setiap saat aku selalu meminta petunjukmu untuk jalan yang lurus,
Bukan jalan yang sesat dan dzolim.

Popular Posts

Pages

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Mati Sejenak

Hidup mengarah pada sebuah kematian. Dimana alam keabadian telah menunggu untuk memberikan hasil dari sebuah penanaman kehidupan. Entah tana...