Jumat, 19 Februari 2016

Mati Semudah Itu?

Aku terdiam dalam petualangan berpikir yang cukup lama. Menguras setengah dari tenagaku untuk melihat indahnya palung lautan kehidupan yang paling mendalam. Mendengarkan dari berbagai sumber dari permasalahan yang ada. Saling mencari pembenaran diri dan saling mencari kesalahan lawan.

Nasehat lama pernah berpesan, "Kita paling jago untuk menjadi hakim bagi orang lain, dan paling jago untuk menjadi pengacara bagi diri sendiri.". Hal ini sangat berlaku dalam kehidupan, yang pada dasarnya tidak ada manusia satu orang pun yang mau disalahkan. Bahkan yang paling mengerikan adalah ketika kesalahan demi kesalahan itu ditepisnya dengan sejuta alasan jitu. Menjadikan kesalahan menggantikan posisi kebenaran yang selalu dijunjung tinggi manusia. Entah apa itu kebenaran yang akan terbungkus dengan alasan kesalahan.

Kau boleh menyerangku dari setiap sudut sisi. Mengepungku dan menyergapku dengan ribuan peluru. Hingga matiku dibuatnya. Dan senyummu menjadi penutup mata kehidupanku.

Kau boleh menghujamku dengan ujung tombak yang paling tajam. Sampai sesak hatiku bernafas dibuatnya. Lalu tumbang, aku terbaring lusuh. Sekejap ku menahan sakit yang semakin perih, lalu pergi tanpa rasa.

Kau boleh membidikku dari jauh. Mencari posisi jitu ditengah jidatku yang akan kau jadikan sasaran tembak. Sampai satu peluru panas menembus kepalaku. Hingga lumpuh otakku berpikir tentang keindahan sesuatu. Hati terguncang hebat dan badan tak lagi berdaya melawannya.

Kau boleh mendogmaku dengan segala pemahaman dan aliran. Memaksaku untuk membenarkan dogma itu, lalu aku setuju dengan pemahaman itu. Tidak bisa kawan, otakku terlalu liar untuk memahami satu persoalan, apalagi tentang dogma yang selalu membuat para pengikutnya selalu benar, tanpa berusaha memperbaiki dirinya. Kau boleh menganggapku sesat, karena berbeda paham atau pertanyaan-pertanyaanku yang tidak bisa kau jawab. Lalu aku akan pergi mencari tempat lain dan orang lain, agar bisa kudapatkan jawaban dari pertanyaan demi pertanyaan yang ada dibenaku sehingga aku patut kau kucilkan.

Aku akan berjalan dengan kakiku sendiri, melihat dengan kedua mataku sendiri, mendengar dengan kedua telingaku sendiri, mengerjakan tugas dengan tanganku sendiri dan membawa beban-beban kehidupan dengan pundakku sendiri.

Hanya satu pesanku kepada diri yang lemah ini, ketika serangan datang bertubi-tubi, "Kau tidak akan mati semudah itu, bukan?". Lalu aku bangkit, meneruskan perjalanan pulang.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

Pages