Jumat, 17 Maret 2017

Kontrak Hidup

Jum'at dini hari. Mataku terasa berat. Kantuk yang melanda begitu hebat, sehingga mulutku tak dapat menahan uap yang berasal dari dalam rongga tenggorokan, yang menghasilnya sedikit air mata.
Terdengar syahdu dari Sang Pencerita tentang kehidupan manusia. Lantang dan tegas saat ia mengingatkan para pendengarnya akan Kontrak Hidup.

Bagaimana bisa kita satu keluarga tetapi masih tega untuk saling membunuh? Bagaimana bisa mereka yang menyerukan persatuan, malah membuat perpecahan? Sehingga persatuan adalah omong kosong untuk menarik simpati rakyat. Persatuan yang di agung-agungkan untuk suatu kelompok tertentu lalu bias menjadi untuk seluruh rakyat.

Agar tidak terjadi gesekan, Sang Pencerita pun menganjurkan kepada para pendengarnya akan paham tentang Kontrak Hidup. Kontrak hidup manusia di dunia ini seperti apa dan bagaimana menjalaninya. Dalam kontrak, lazimnya mengandung beberapa aturan main seseorang demi mencapai tujuannya. Terdapat pasal-pasal yang harus dipenuhi. Terdapat status jabatan, tugas, tanggung jawab dan waktu yang tertulis. Sampai kepada kompensasi dan hukuman, hak dan kewajiban. Semuanya tertulis jelas jika setiap orang mampu membaca Kontrak Hidup tersebut.

Kontrak hidup ini yang membuatnya adalah Tuhan Sang Pencipta. Dialah yang menuliskan semua pasal-pasal yang ada, kompensasi, jabatan, tugas, hak dan kewajiban. Dialah yang menciptakan jin dan manusia untuk menyembahnya.

Kontrak hidup manusia ini salah satunya terdapat pada Surah Pembuka, yang mana isinya adalah butir-butir kehidupan secara menyeluruh. Penjelasan demi penjelasan menyadarkan kita untuk hidup dalam sebuah kontrak yang sudah kita setujui dari awal.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

Pages