Rabu, 10 Oktober 2012

Aku dan Diriku Satu

Siapa yang paling kuat hidup dalam ketenangan? Siapakah yang paling berani untuk melawan keterbatasan? Siapakah yang paling takut akan rahasianya masa depan? Siapakah yang paling takut untuk memulai suatu kesuksesan? dan siapakah musuh terbesar dalam kehidupan?

Semua pertanyaan diatas hanya ada satu jawabannya, yaitu, "aku", aku dan diriku yang menjadi satu. 

Tidak ada kehidupan lain yang dapat mengarahkan kita kejalan yang kita kehendaki, kecuali, diri kita sendiri. Semua yang berada pada sekeliling kita menjadi pengaruh besar dalam membentuk "diri" menjadi apa yang diinginkan.

Sebagai contoh, bila kita hidup dalam masyarakat yang "bodoh", dalam arti masyarakat yang belum tahu tata krama, bertindak sesukanya dan tidak menghiraukan orang lain tentang perbuatan yang dilakukannya, baik benar atau pun buruk tindakannya, maka orang tersebut akan menjadi seperti itu. Dengan perilaku yang tidak jauh seperti lingkungannya. Maka disitulah karakter seseorang akan tertanam dari kecil dengan budaya yang ada disekitarnya. Karakter tersebut akan tertanam hingga dewasa sampai tua. Inilah diri yang terbentuk oleh lingkungan sekitarnya atau yang biasa dikenal dengan karakter seseorang sesuai dengan kebudayaannya.

Dalam pengalaman yang berbeda, seseorang akan menemukan "diri"nya pada masa ketenangan yang dia capai. Ketika seseorang menemukan dirinya tenang dengan harta yang melimpah, maka orang tersebut akan terus mencari harta dengan segala cara. Ketika seseorang menemukan dirinya tenang dengan keadaaan yang sangat berkecukupan, maka tidak ada lagi ambisi untuk mengejar kekayaan dengan serakah.Ketika diri seseorang itu merasa tidak nyaman dengan budaya yang membentuknya maka terjadi pergolakan batin dalam dirinya yang harus memaksanya untuk memilih jalan keluarnya. 

Semua yang ada disekitar menjadi bagian sangat penting untuk menjadikan "aku dan diriku satu". Banyak orang yang belum tahu siapa "aku" dan "dirinya" dalam kehidupan, sehingga timbul masalah-masalah yang bertentangan dalam diri seseorang tersebut. Maka ada hal yang disebut berkepribadian ganda, antara "aku" dan "diriku" belum menjadi satu dalam menentukan sikap.

Aku adalah pembunuh yang paling kejam di dunia, namun diriku adalah penyayang yang sangat mengasihi orang-orang lemah. Yang menjadi pengendali dalam besikap adalah "diri", sehingga banyak pelatihan atau cara untuk mengendalikan diri dengan tujuan untuk menyatukan "aku" yang bisa dikenal oleh orang banyak dengan "diri" yang menjadi pusat dari segala perbuatan. Pada dasarnya, semua orang itu memiliki "diri" yang sangat halus sehingga akan terlihat dalam perilakunya sehari-hari, namun adanya budaya yang memproses seseorang tersebut sebagai awal dari pemasukan dalam diri menjadikannya suatu ciri khas yang unik. Keluarga dalam pembentukan diri seeorang dapat termasuk dalam budaya, karena ruang lingkup kehidupan mereka yang bersamaan dengan masyarakat setempat.

Jika aku dan diriku sudah menjadi satu, maka akan terbentuk suatu daya tarik dan kebijakan dalam mengambil segala tindakan. Orang tersebut akan kuat terhadap pendiriannya, dengan syarat telah mengetahui semua aturan-aturan hidup, sehingga tidak ada orang yang merasa dirugikan dengan sikapnya. 

Melawan pertentangan dalam diri bisa dengan cara duduk termenung dan merasakan apa yang akan kita kerjakan itu sesuai atau tidak dengan diri kita masing-masing, lalu mengambil keputusan dengan tegas beserta segala resikonya. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

Pages