Jumat, 12 Oktober 2012

Jangan bergantung kepada ranting yang sudah rapuh.



Berharap kepada langit mendung agar tidak menurunkan hujan. Bersandar pada dinding yang telah rapuh. Berjalan pada kesunyian yang tidak dapat mendengarkan bunyi. Bertanya pada rumput yang bergoyang. Berenang dalam ombak yang menggulung agar menjadi tenang. Melihat dengan jelas pada malam yang penuh dengan keegelapan.

Kau terlalu lemah untuk menentukan dirimu dengan dikelilingi para pelindung bayaran.
Kau terlalu cengeng untuk dapat tetap tegar menyelesaikan masa lalu yang masih terlintas dalam benak.
Kau terlalu manja dengan mengandalkan seseorang yang akan dapat membantumu.
Kau terlalu takut untuk menentukan pilihan yang akan kau jalani dengan segala resikonya.
Kau terlalu bodoh untuk mengambil keputusan sulit yang akhirnya membawamu pada kesesatan.
Kau terlalu mudah untuk mengucapkan “iya” pada perintah yang tidak dapat kau kerjakan.
Kau terlalu lembek untuk bersikap tegas akan suatu masalah.

Dengar kawan, segala sesuatu yang kita kerjakan akan menimbulkan sebab  akibat, bermanfaat atau merugikan bagi kita ataupun orang lain, tanpa kita sadari maupun yang tidak kita sadari.

Semua yang terlihat baik pasti akan ada keburukan didalamnya, dan semua yang terlihat buruk pasti akan ada kebaikan didalamnya. Tidak semua kebaikan akan berbalik dengan kebaikan, namun pasti. Tak jarang kita melihat suatu kebaikan bergandengan dengan keburukan karena keburukan itu diperlukan untuk melihat suatu kebaikan.

Kebaikan akan terlihat ketika tertindas dengan suatu keburukan yang pada akhirnya kesabaran muncul sebagai pahlawan. Begitu pun dengan suatu keburukan yang berselimutkan dengan nama kejahatan terlihat sangat kuat untuk menjadi penguasa atas kebaikan. Dimana letak pembalasan yang adil untuk melihat suatu kekuatan dari kebaikan?

Ketika hukum mulai membuka mata, pasti ada kalanya kejahatan itu berlutut serta bersujud untuk mentaatinya. Namun hanya orang-orang kuat dengan kekuasaan yang merajalela menguasai hukum, yang seharusnya berdiri tegak mengusung sebuah keadilan.

Patung seorang wanita yang membawa timbangan pun ditutupi matanya dengan sehelai kain hitam. Sebagai tanda bahwa hukum itu tidak memandang statuts orang tersebut. Hukum itu menutup mata untuk menghakimi semua orang agar mendapat keadilan yang sama. Namun pada saat mata hukum itu tertutuplah, sebagian penguasa memanfaatkannya agar dapat naik bandiing, meringankan hukuman ataupun dapat membebaskan hukuman dari yang jelas-jelas bersalah. Dimanakah keadilan? Apakah kita dapat bergantung pada ranting yang rapuh?

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

Pages

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.